MAKALAH AZAZ FILSAFAT & OLAHRAGA

Membuat literasi Digital Menggunakan Blogger 

                                     D

                                     I

                                     S

                                     U

                                     S

                                     U

                                     N                                                                                                                                                                        OLEH : 

Nama : M RIDWAN JULIAN PRATAMA PUTRA

Nim : 2021151042

Kelas : 1B 

Dosen Pengajar :Dr.Tri Bayu Norito M.Pd,.AIFO 

                      PENDIDIKAN JASMANI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

              UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

                                 2021/2022

Hakikat Azas & Filsafat Olahraga

Pendidikan olahraga/jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu,baik dalam hal fisik,mental serta emosional. Pendidikan olahraga memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh,mahluk total dari pada hanya menganggapnya sebagai seseoarang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.

Pada kenyataannya,pendidikan olahraga adalah suatu bidang kajian yan sungguh luas dan menjadi titik perhatian pada peningkataan gerak manusia,lebih khusus lagi ,olahraga berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya.

Aspek Aspek Filsafat Olahraga:

a. Aspek Ontologis

Ontologi mempelajari apa yang ingin diketahui mengenai kajian teori yang telah ada,

 sehingga ilmu yang telah dikaji disebut sebagai pengetahuan empiris,

karena objek yang terkandung didalamnya sesuatu yang jangkauannya tentang

 pengalaman manusia yang membahas tentang cakupan seluruh aspek kehidupan manusia. 

Landasan ontologi sebagai ilmu pengetahuan yang sangat bergantung pada cara pandang terhadap

realitas. Realitas yang dimaksud adalah materi yang lebih terarah terhadap ilmu-

ilmu empiris dan juga ilmuilmu humaniora(Mustansyir et al., 2011). Kemudian pada 

landasan ontologis meiliputi ilmu dengan

pengetahuan ilmiah yang tidak lepas dari filsafat tentang apa dan bagaimana yang 

ada. Faham monism yang

terpecah menjadi idealism atau spiritualisme, faham materialism, dualism, 

pluralism dengan berbagai

nuansanya yang artinya paham ontologi untuk menentukan pendapat bahkan 

keyakinan seseorang masingmasing (Nursalim, 2017). Secara ontologis 

perkembangan pendidikan zaman now sebenarnya mengalami

kemajuan pesat, sehingga mampu menjawab ruang lingkup obyek yang dipelajari, 

seperti kognitif.

b. Aspek Epistemologis

Epistemologis merupakan pengembangan ilmu yang membahas tentang seluruh 

proses yang melibatkan

usaha untuk mendapatkan pengetahuan. Dalam mencari pengetahuan tentang hal 

apapun selama itu terbatas

dan menunjang pada objek empiris dan pengetahuan yang diperoleh menggunakan 

metode ilmiah atau

keilmuan, hal tersebut dinyatakan resmi dinamakan keilmuan. Landasan 

epistemologis dalam pengembangan

ilmu berarti pengetahuan yang didasarkan atas prosedur untuk melakukan proses 

kebenaran. Dalam

hakikatnya keilmuan ditentukan dengan cara berfikir secara rasional sesuai dengan 

syarat keilmuan yaitu

bersifat terbuka dan faktanya memiliki kebenaran diatas segalanya(Suriasumantri 

& Jujun, 2011). Hal

tersebut meliputi sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut. Secara epistemologis perlu

adanya inovasi pengukuran untuk dapat membuktikan secara empiris sehingga pendidikan zaman now


memiliki suatu inovasi terhadap proses peserta didik agar selalu melibatkan 

pengetahuan yang selalu

berkembang

c. Aspek Aksiologis

Aksiologi ilmu merupakan nilai-nilai yang berharga dan juga bersifat normatif atas 

dasar pemberian

makna untuk kebenaran yang nyata. Dalam aksiologi selalu berhadapan untuk 

pengembangan ilmu yang

bersikap etis dan dikembangkan oleh seorang ilmuan terutama dalam nilai-nilai 

yang dikaitkan

kebenarannya. Hal tersebut adalah bagian aktivitas ilmiah yang dikaitkan dengan 

kepercayaan, ideologi yang

digunakan masyarakat ditempat ilmu itu dikembangkan(Mustansyir et al., 2011). 

Secara umum dapat

dipahami bahwa aksiologi menerapkan sebuah analisis tentang hasil-hasil temuan 

dalam ilmu pengetahuan,

sehingga ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk memudahkan dalam 

kebutuhan-kebutuhan dikehidupan

manusia. Dalam perkembangan filsafat terhadap pendidikan zaman now dengan 

landasan aksiologi tidak

hanya digunakan untuk mengerahkan strategi pengembangan pendidikan. Akan 

tetapi, manfaat ilmu untuk

memahami berbagai konsep dan teori sesuai disiplin ilmu .

Berdasarkan landasan dan kajian literature di atas menunjukkan bahwa landasan 

pada objek material

sebagai penunjang pengembangan ilmu sama seperti halnya pendidikan yang 

berlangsung seumur hidup dan

dapat dipandang dalam arti luas secara teknis atau dalam hasil tercapainya proses 

pendidikan yang pada

dasarnya menunjuk pada suatu tindakan yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan


yang terdiri atas watak dan karakter (Dwi, 2018). Kualitas abad kedua puluh 

menulis dalam filsafat

pendidikan mungkin tidak selalu mencapai puncak oleh Plato, Aristoteles, Aquinas, 

Rousseau, dan Herbart

tetapi tidak pernah, dengan kemungkinan Terkecuali zaman Yunani, telah ada

yang berkelanjutan

menyebarkan minat dalam masalah filosofis pendidikan yang mendasari seperti yang telah disaksikan.


A. Pengertian Pendidikan Jasmani 

Pendidikan jasmani merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan pada 

umumnya yang mempengaruhi potensi peserta didik dalam hal kognitif, afektif, dan 

psikomotor melalui aktivitas jasmani. Melalui aktivitas jasmani anak akan 

memperoleh berbagai macam pengalaman yang berharga untuk kehidupan seperti 

kecerdasan, emosi, perhatian, kerjasama, keterampilan, dsb. Aktivitas jasmani untuk 

pendidikan jasmani ini dapat melalui olahraga atau non olahraga. Pengertian 

pendidikan jasmani telah banyak diterangkan oleh para ahli pendidikan jasmani 

diantaranya adalah : 

Williams menyatakan bahwa pendidikan jasmani adalah semua aktivitas manusia 

yang dipilih jenisnya dan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. 

Singer memberi batasan mengenai pendidikan jasmani sebagai pendidikan melalui 

jasmani berbentuk suatu program aktivitas jasmani yang medianya gerak tubuh 

dirancang untuk menghasilkan beragam pengalaman dan tujuan antara lain belajar, 

sosial, intelektual, keindahan dan kesehatan. 

UNESCO memberikan pengertian pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan 

manusia sebagai individu atau anggota masyarakat dilakukan secara sadar dan 

sistematis melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh peningkatan 

kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan dan pembangunan 

watak. 

Bucher menyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian yang integral 

dari seluruh proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan fisik, mental, emosi, 

dan sosial, melalui aktivitas jasmani yang telah dipilih untuk mencapai hasilnya. 

Frost menyatakan bawa pendidikan jasmani terdiri dari perubahan dan 

penyesuaian yang terjadi pada individu bila ia bergerak dan mempelajari gerak. 

Termasuk di dalam gerak adalah merangkak, berjalan, berlari, memanjat, melompat, 

melempar dan gerakan lain yang dilakukan bila berpartisipasi dalam permaianan, 

senam, tari, renang, dan beladiri. 

Sukintaka menyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian yang integral 

dari pendidikan total yang mencoba mencapai tujuan untuk mengembangkan 

kebugaran jasmani, mental sosial, serta emosional dalam kerangka menuju manusia.

Pengertian Pendidikan Olahraga 

Ada kesalahpahaman bahwa pendidikan jasmani sama dengan pendidikan olahraga. 

Keduanya berbeda, pendidikan jasmani lebih menekankan pada pengembangan 

keterampilan motorik dasar dan memperkaya perbendaharaan gerak. Pendidikan 

olahraga menekankan pada pembinaan keterampilan berolahraga dan menghayati

nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan berlatih dan bertanding (Jewet, 1994; Jewet et 

al., 1995). Semua anak dibekali pengalaman nyata untuk berperan dalam pembinaan 

olahraga, seperti wasit, atlet, atau pelatih. 

Pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai 

cabang-cabang olahraga tertentu. Kepada peserta didik diperkenalkan berbagai 

cabang olahraga agar mereka menguasai keterampilan berolahraga. Yang ditekankan 

di sini adalah hasil dari pembelajaran itu, sehingga metode pengajaran serta 

bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan yang ingin dicapai. 

Ciri-ciri pelatihan olahraga menyusup ke dalam proses pembelajaran. 

Yang sering terjadi pada pembelajaran „pendidikan olahraga„ adalah bahwa guru 

kurang memperhatikan kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Jika peserta didik 

harus belajar bermain bola voli, mereka belajar keterampilan teknik bola voli 

secara langsung. Teknik-teknik dasar dalam pelajaran demikian lebih ditekankan, 

sementara tahapan penyajian tugas gerak yang disesuaikan dengan kemampuan 

anak kurang diperhatikan. 

Guru demikian akan berkata: “kalau perlu tidak usah ada pentahapan, karena anak 

akan dapat mempelajarinya secara langsung. Beri mereka bola, dan instruksikan 

anak supaya bermain langsung”. Anak yang sudah terampil biasanya dapat menjadi 

contoh, dan anak yang belum terampil belajar dari mengamati demonstrasi 

temannya yang sudah mahir tadi. Untuk pengajaran model seperti ini, ada ungkapan: 

“Kalau anda ingin anak belajar renang, lemparkan mereka ke kolam yang paling 

dalam, dan mereka akan bisa sendiri. 

B. Tujuan pendidikan jasmani dan olahraga

Tujuan pendidikan jasmani mencakup aspek organik, kognitif, neuromuskuler, perseptual,
sosial dan emosional.
Pendidikan jasmani memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk: 
Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, kepercayaan diri yang berkaitan dengan aktivitas jasmani, perkembangan estetika, dan perkembangan sosial, kemampuan 
untuk menguasai keterampilan gerak dasar yang akan mendorong partisipasinya dalam 
aneka aktivitas jasmani, Memperoleh dan mempertahankan derajat kebugaran jasmani 
yang optimal, Mengembangkan nilai-nilai pribadi, Meletakan landasan karakter moral yang 
kuat melalui internalisasi nilai Pendidikan Jasmani, Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis 
melalui pelaksanaan tugas-tugas ajar Pendidikan Jasmani, Me n ge m ba n gk a n sikap sportif, 
jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis melalui aktivitas 
jasmani, mengembangkan kemampuan gerak dan keterampilan berbagai macam permainan dan 
olahraga.
Pendidikan olahraga menekankan pada pembinaan keterampilan berolahraga dan 
menghayati nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan berlatih dan bertanding(Jewet, 1994; 
Jewet et al., 1995).
Pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai cabang-
cabang olahraga tertentu.

C. Manfaat pendidikan jasmani dan olahraga

Manfaat Pendidikan Jasmani, dan olahraga
1) Aspek Organik 
a) Menjadikan fungsi sistem tubuh menjadi lebih baik sehingga individu dapat 
memenuhi tuntutan lingkungannya secara memadai serta memiliki landasan 
untuk pengembangan keterampilan. 
b) Meningkatkan kekuatan otot, yaitu jumlah tenaga maksimum yang 
dikeluarkan oleh otot atau kelompok otot. 
c) Meningkatkan daya tahan otot, yaitu kemampuan otot atau kelompok otot 
untuk menekan kerja dalam waktu yang lama. 
d) Meningkatkan daya tahan kardiovaskuler, kapasitas individu untuk 
melakukan aktivitas yang berat secara terus menerus dalam waktu yang 
relatif lama. 
e) Meningkatkan fleksibilitas, yaitu: rentang gerak dalam persendian yang 
diperlukan untuk menghasilkan gerakan yang efisien dan mengurangi
2) Aspek Neuromuskuler
a) Meningkatkan keharmonisan antara fungsi saraf dan otot. 
b) Mengembangkan gerak dasar lokomotor, seperti: berjalan, berlari, 
melompat, meloncat, meluncur, melangkah, mendorong, 
menderap/mencongklang, berguling, menarik. 
c) Mengembangkan gerak dasar non-lokomotor, seperti: mengayun, 
melengok, meliuk, bergoyang, meregang, menekuk, menggantung, 
membongkok. 
d) Mengembangkan gerak dasar manipulatif, seperti: memukul, menendang, 
menangkap, menghentikan, melempar, mengubah arah, memantulkan, 
menggulirkan, memvoli. 
e) Mengembangkan komponen fisik, seperti: kekuatan, daya tahan, 
kelentukan, kecepatan, keseimbangan, ketepatan, power. 
f) Mengembangkan kemampuan kinestetik seperti: rasa gerak, irama, waktu 
reaksi dan koordinasi. 
g) Mengembangkan potensi diri melalui aktivitas jasmani dan olahraga, 
seperti: sepakbola, softball, bolavoli, bolabasket, bolatangan, baseball, 
atletik, tennis, tennis meja, beladiri dan lain sebagainya. 
h) Mengembangkan aktivitas jasmani di alam bebas melalui berbagai 
kegiatan, seperti: menjelajah, mendaki, berkemah, dan lainnya. 
3) Aspek Perseptual 
a) Mengembangkan kemampuan menerima dan membedakan isyarat. 
b) Mengembangkan hubungan-hubungan yang berkaitan dengan tempat atau 
ruang, yaitu kemampuan mengenali objek yang berada di depan, belakang, 
bawah, sebelah kanan, atau di sebelah kiri dari dirinya. 
c) Mengembangkan koordinasi gerak visual, yaitu: kemampuan 
mengkoordinasikan pandangan dengan keterampilan gerak yang 
melibatkan tangan, tubuh, dan atau kaki. 
d) Mengembangkan keseimbangan tubuh (statis dan dinamis), yaitu: 
kemampuan mempertahankan keseimbangan statis dan dinamis. 
e) Mengembangkan dominasi (dominancy), yaitu: konsistensi dalam 
menggunakan tangan atau kaki kanan/kiri dalam melempar atau 
menendang.
f) Mengembangkan lateralitas (laterility), yaitu: kemampuan membedakan 
antara sisi kanan atau kiri tubuh dan diantara bagian dalam kanan atau kiri 
tubuhnya sendiri. 
4) Aspek Kognitif 
a) Mengembangkan kemampuan menemukan sesuatu, memahami, 
memperoleh pengetahuan dan mengambil keputusan. 
b) Meningkatkan pengetahuan tentang peraturan permainan, keselamatan, dan 
etika. 
c) Mengembangkan kemampuan penggunaan taktik dan strategi dalam 
aktivitas yang terorganisasi. 
d) Meningkatkan pemahaman bagaimana fungsi tubuh dan hubungannya 
dengan aktivitas jasmani. 
e) Menghargai kinerja tubuh, penggunaan pertimbangan yang berhubungan 
dengan jarak, waktu, tempat, bentuk, kecepatan, dan arah yang digunakan 
dalam mengimplementasikan aktivitas dan dirinya. 
5) Aspek Sosial 
a) Menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan dimana berada. 
b) Mengembangkan kemampuan membuat pertimbangan dan keputusan 
dalam kelompok. 
c) Belajar berkomunikasi dengan orang lain. 
d) Mengembangkan kemampuan bertukar pikiran dan mengevaluasi ide dalam 
kelompok. 
e) Mengembangkan kepribadian, sikap, dan nilai agar dapat berfungsi sebagai 
anggota masyarakat. 
f) Mengembangkan rasa memiliki dan tanggungjawab di masyarakat. 
g) Menggunakan waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat. 
6) Aspek Emosional 
a) Mengembangkan respon positif terhadap aktivitas jasmani. 
b) Mengembangkan reaksi yang positif sebagai penonton. 
c) Melepas ketegangan melalui aktivitas fisik yang tepat. 
d) Memberikan saluran untuk mengekpresikan diri dan kreativitas. 
7) Aspek Rehabilitasi 
a) Terapi dan koreksi terhadap kelainan sikap tubuh. 
b) Rehabilitasi terhadap cacat fisik dan penyakit fisik yang bersifat sementara.

RANGKUMAN 

Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan, 
yang memfokuskan pengembangan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, 
keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan 
moral melalui aktivitas jasmani. Atau dengan kata lain pendidikan jasmani merupakan proses 
pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani dan direncanakan secara sistematik bertujuan 
untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, sosial dan 
emosional.

penerapan pendidikan jasamani dan olahraga

DBON merupakan dokumen rencana induk yang berisikan arah kebijakan pembinaan dan pengembangan keolahragaan nasional yang dilakukan secara efektif, efisien, unggul, terukur, sistematis, akuntabel, dan berkelanjutan dalam lingkup olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, olahraga prestasi, dan industri olahraga.

      visi, misi, prinsip, tujuan, dan sasaran; kebijakan, strategi, dan penyelenggaraan; serta peta jalan DBON.

-Visi

   DBON Tahun 2021-2045 adalah “Mewujudkan Indonesia Bugar, Berkarakter Unggul, dan Berprestasi Dunia”.


-Misi 

 -mewujudkan masyarakat Indonesia yang berpartisipasi aktif berolahraga dengan tingkat kebugaran jasmani baik;

-mewujudkan peserta didik pada satuan pendidikan yang berpartisipasi aktif berolahraga sehingga berkarakter unggul, memiliki kecakapan gerak, dan tingkat

 kebugaran jasmani baik


-Mencetak atlet-atlet berprestasi dunia dengan pembinaan atlet jangka panjang yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan sebagai faktor pendukung utama. 

-Mengembangkan industri olahraga yang mendukung pembinaan dan pengembangan olahraga nasional serta berkontribusi kepada pertumbuhan ekonomi nasional; dan e. mewujudkan tata kelola pembinaan dan pengembangan olahraga nasional yang modern, sistematis, sinergi, akuntabel, berjenjang, dan berkelanjutan.

-mengembangkan industri olahraga yang mendukung pembinaan dan pengembangan olahraga nasional serta berkontribusi kepada pertumbuhan ekonomi nasional; dan 

-Mewujudkan tata kelola pembinaan dan pengembangan olahraga nasional yang modern, sistematis, sinergi, akuntabel, berjenjang, dan berkelanjutan

 

Prinsip

Dalam menjalankan misi dan mewujudkan tujuan, DBON menggunakan prinsip EMAS atau Excellence, Measurable, Accountable, dan Systematic and Suistainable. Excellence atau unggul, artinya seluruh program dan kegiatan yang dilaksanakan harus dilakukan dengan upaya yang terbaik untuk menghasilkan mutu setinggi-tingginya. Measurable atau terukur, artinya pelaksanaan DBON yang dirancang harus dilakukan secara terukur dan jelas target, sasaran, serta waktu pencapaiannya. Sedangkan, accountable atau dapat dipertanggungjawabkan artinya DBON harus dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi kewenangannya serta dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemudian, systematic and suistainable atau sistematis dan berkelanjutan artinya program dan kegiatan yang harus dilaksanakan secara sistematis, konsisten, dan berkelanjutan pada semua tingkatan pelaksanaan.



Tujuan DBON

Tujuan DBON bertujuan untuk meningkatkan budaya olahraga di masyarakat; meningkatkan kapasitas, sinergitas, dan produktivitas olahraga prestasi nasional; dan memajukan perekonomian nasional berbasis olahraga. Adapun fungsi DBON adalah untuk memberikan pedoman bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah (pemda) baik provinsi maupun kabupaten/kota, organisasi olahraga, induk organisasi cabang olahraga, dunia usaha dan industri, akademisi, media, dan masyarakat dalam penyelenggaraan keolahragaan nasional sehingga pembangunan keolahragaan nasional dapat berjalan secara efektif, efisien, unggul, terukur, akuntabel, sistematis, dan berkelanjutan.

Hubungan sejarah gerak manusia dan filsafat olahraga

A. PENGERTIAN FILSAFAT

            Untuk memperoleh pengertian tentang filsafat diperlukan kajian yang mendalam tetang filsafat itu sendiri. Pengertian filsafat dari para filsuf selalu berbeda-beda. Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yaitu pengertian secara Etimologi dan pengertian secara Terminologi.

1. Pengertian Filsafat Secara Etimologi
            Secara etimologik filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosophia. Kata ini terdiri dari philein yang berarti kasih, liefdi yang berarti cinta atau love, dan sophia yang berarti kebijakan atau wisdom. Jadi dapat diartikan secara etimologik bahwa filsafat adalah cinta kebijakan (love of wisdom).
  
 2. Pengertian Filsafat Menurut Para Ahli
            a. Plato
      Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
            b. Rene Descartes
      Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
            c. Immanuel Kant
Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan, yang di dalamnya tercakup masalah epistemologi (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui.
            d. Langeveld
Filsafat adalah berpikir tentang masalah-masalah yang akhir dan yang menentukan, yaitu masalah-masalah yang mengenai makna keadaan, Tuhan, keabadian, dan kebebasan.
           e. Prof. Mr. Muhammad Yamin
Filsafart ialah pemusatan pikiran sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya di dalam kepribadiannya itu dialaminya kesungguhan.

            Berdasarkan dari pengetian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Filsafat adalah suatu usaha untuk memahami hakikat, mempersolakan suatu isu secara kritis, guna memperoleh pengetahuan yang paling hakiki pada suatu bidang tertentu.

B. RUANG LINGKUP FILSAFAT
            Ruang lingkup filsafat adalah segala sesuatu lapangan pikiran manusia yang amat luas. Segala sesuatu yang mungkin ada dan benar, benar ada (nyata), baik material konkrit maupuan nonmaterial abstrak (tidak terlihat). Ruang lingkup filsafat dapat dibedakan menjadi dua yaitu objek material filsafat dan objek formal filsafat.

a. Objek Material Filsafat
      Objek material, yaitu hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot oleh suatu disiplin ilmu, selain itu objek material dapat berupa suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan. Objek material dapat mencakup apa saja, baik hal-hal konkret atau pun hal yang abstrak.
      Para ahli menerangkan bahwa objek filsafat itu dibedakan atas objek material atau objek materiil filsafat; segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, baik materiil konkret, phisis maupun nonmateriil abstrak, psikhis, termasuk pula pengertian abstrak-logis, konsepsional, spiritual, nilai-nilai. Dengan demikian objek filsafat tak terbatas.
b.      Objek Formal Filsafat
      Objek formal filsafat diartikan sebagai sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut darimana objek material itu ditinjau. Objek formal suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang lain. Satu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda. Misalnya objek materialnya adalah “manusia” dan manusia ini ditinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di antaranya psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya.
Jadi yang membedakan antara filsafat dengan ilmu-i1mu lain terletak dalam objek material dan objek formalnya. Kalau dalam ilmu-ilmu lain objek materialnya membatasi diri, sedangkan pada filsafat tidak membatasi diri. Adapun pada objek formalnya membahas objek materialnya itu sampai ke hakikat atau esensi dari yang dihadapinya.

C.    SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT

Perkembangan filsafat dapat dikelompokkan dalam beberapa periode sebagai berikut:

a.      Zamam Yunani Klasik
      Periode filsafat Yunani memegang peran krusial dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan besar dalam pola berpikir manusia  dari mitos–mitos kepada pemikiran–pemikiran rasional. Setelah abad ke 6 SM ketika filsafat tampil ke pentas dunia, mitos dan dongeng sekian lama diyakini sebagai yang menjelaskan gejala–gejala alam dan teka-teki relasi antar manusia, manusia dengan alam sekitar dan dengan alam gaib dianggap runtuh. Manusia yang dulunya pasif dan pasrah dalam menghadapi fenomena alam menjadi lebih akrif dan kreatif dan mau menguasai alam ini. Alam menjadi objek kuasa dan penelitian manusia.

b.      Zaman Pra Yunani Kuno
         ·            Mitologi dianggap sebagai dasar kuat untuk menjelaskan segala sesuatu dalam alam dan bahkan menjelaskan teka–teki alam semesta. Lewat cara ini manusia sudah mulai dilatih untuk mulai berpikir.
         ·            Kesusastraan Yunani; sebelum filsafat secara formal lahir sudah karya–karya besar HOMOREUS seperti Lliad dan Odysseas, dimana syair dalam karya–karya tersebut selalu digunakan sebagai buku-buku pendidikan untuk rakyat yunani.


Gerakan Olimpiade


Gerakan Olimpiade Sedunia, KOI Gelar Olympic Day

Oleh : Hendro D Situmorang / YUD
Ilustrasi Komite Olimpiade Indonesia (KOI)
Jakarta - Dalam rangka memperingkati hari lahir Olimpiade, Komite Olimpiade Indonesia (KOI ) menggelar Olympic Day yang dipusatkan di Plaza Selatan, Gelora Bung Karno

Ketua Panitia Olympic Day Bambang Rus menyebutkan, kegiatan Olympic Day bukanlah semata berbicara soal olahraga, tetapi juga merupakan bagian dari kegiatan gerakkan Olimpiade Sedunia yang juga dilaksanakan di seluruh negara Anggota Komite Olimpiade Internasional IOC.

”Dengan didasari pada tiga pilar utama untuk lebih menggelorakan kegiatan olahraga (Move), pembelajaran atas respek kepada sesama manusia (Learn), dan proses upaya menemukan jenis olahraga baru (Discover) kepada seluruh masyarakat dunia.

Ketua Panitia Olympic Day Bambang Rus menyebutkan, kegiatan Olympic Day bukanlah semata berbicara soal olahraga, tetapi juga merupakan bagian dari kegiatan gerakkan Olimpiade Sedunia yang juga dilaksanakan di seluruh negara Anggota Komite Olimpiade Internasional IOC.

”Dengan didasari pada tiga pilar utama untuk lebih menggelorakan kegiatan olahraga (Move), pembelajaran atas respek kepada sesama manusia (Learn), dan proses upaya menemukan jenis olahraga baru (Discover) kepada seluruh masyarakat dunia. Melalui kegiatan ini dapat lebih mempererat hubungan persahabatan antar sesama negara dan manusia," kata Bambang Rus yang juga Ketua Komisi Sport For All KOI, di Jakarta

Pada Olympic Day kali ini akan diisi berbagai kegiatan seperti Senam Masal Asian Games 2018, Peragaan Pencak Silat, olahraga Beladiri Taekwondo, dan Barongsai. Tidak ketinggalan duta bangsa Indonesia yang akan berlaga di Arena Olimpiade Rio de Janeiro 5-21 Agustus 2016 juga akan mengisi kegiatan Olympic Day di Plaza Selatan Gelora Bung Karno itu.

Juara Dunia Jetski 2014 Aero Sutan Aswar, dan Aqsa Sutan Aswar bertindak selaku pembawa Obor Olympic Day. Dijadwalkan Menpora Imam Nahrawi akan menghadiri Olympic Day sekaligus melakukan penyulutan api ke Kaldron .

Olympic Day digelar dalam rangka memperingati lahirnya Olimpiade yang dicetuskan Baron Pierre de Coubertin.
Baron Pierre de Coubertin yang terlahir 1 Januari 1863 dan wafat 2 September 1937 adalah seorang guru dan sejarawan Prancis, namun dikenal sebagai penemu Olimpiade Modern dan hingga kini menjadi ajang pertandingan olahraga tertinggi yang diikuti oleh para atlet terbaik dunia.









































 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Azaz dan filsafat olahraga

Azaz dan filsafat olahraga