MAKALAH AZAZ FILSAFAT & OLAHRAGA
Membuat literasi Digital Menggunakan Blogger
D
I
S
U
S
U
N OLEH :
Nama : M RIDWAN JULIAN PRATAMA PUTRA
Nim : 2021151042
Kelas : 1B
Dosen Pengajar :Dr.Tri Bayu Norito M.Pd,.AIFO
PENDIDIKAN JASMANI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2021/2022
Hakikat Azas & Filsafat Olahraga
Pendidikan olahraga/jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu,baik dalam hal fisik,mental serta emosional. Pendidikan olahraga memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh,mahluk total dari pada hanya menganggapnya sebagai seseoarang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
Pada kenyataannya,pendidikan olahraga adalah suatu bidang kajian yan sungguh luas dan menjadi titik perhatian pada peningkataan gerak manusia,lebih khusus lagi ,olahraga berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya.
Aspek Aspek Filsafat Olahraga:
a. Aspek Ontologis
Ontologi mempelajari apa yang ingin diketahui mengenai kajian teori yang telah ada,
sehingga ilmu yang telah dikaji disebut sebagai pengetahuan empiris,
karena objek yang terkandung didalamnya sesuatu yang jangkauannya tentang
pengalaman manusia yang membahas tentang cakupan seluruh aspek kehidupan manusia.
Landasan ontologi sebagai ilmu pengetahuan yang sangat bergantung pada cara pandang terhadap
realitas. Realitas yang dimaksud adalah materi yang lebih terarah terhadap ilmu-
ilmu empiris dan juga ilmuilmu humaniora(Mustansyir et al., 2011). Kemudian pada
landasan ontologis meiliputi ilmu dengan
pengetahuan ilmiah yang tidak lepas dari filsafat tentang apa dan bagaimana yang
ada. Faham monism yang
terpecah menjadi idealism atau spiritualisme, faham materialism, dualism,
pluralism dengan berbagai
nuansanya yang artinya paham ontologi untuk menentukan pendapat bahkan
keyakinan seseorang masingmasing (Nursalim, 2017). Secara ontologis
perkembangan pendidikan zaman now sebenarnya mengalami
kemajuan pesat, sehingga mampu menjawab ruang lingkup obyek yang dipelajari,
seperti kognitif.
b. Aspek Epistemologis
Epistemologis merupakan pengembangan ilmu yang membahas tentang seluruh
proses yang melibatkan
usaha untuk mendapatkan pengetahuan. Dalam mencari pengetahuan tentang hal
apapun selama itu terbatas
dan menunjang pada objek empiris dan pengetahuan yang diperoleh menggunakan
metode ilmiah atau
keilmuan, hal tersebut dinyatakan resmi dinamakan keilmuan. Landasan
epistemologis dalam pengembangan
ilmu berarti pengetahuan yang didasarkan atas prosedur untuk melakukan proses
kebenaran. Dalam
hakikatnya keilmuan ditentukan dengan cara berfikir secara rasional sesuai dengan
syarat keilmuan yaitu
bersifat terbuka dan faktanya memiliki kebenaran diatas segalanya(Suriasumantri
& Jujun, 2011). Hal
tersebut meliputi sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut. Secara epistemologis perlu
adanya inovasi pengukuran untuk dapat membuktikan secara empiris sehingga pendidikan zaman now
memiliki suatu inovasi terhadap proses peserta didik agar selalu melibatkan
pengetahuan yang selalu
berkembang
c. Aspek Aksiologis
Aksiologi ilmu merupakan nilai-nilai yang berharga dan juga bersifat normatif atas
dasar pemberian
makna untuk kebenaran yang nyata. Dalam aksiologi selalu berhadapan untuk
pengembangan ilmu yang
bersikap etis dan dikembangkan oleh seorang ilmuan terutama dalam nilai-nilai
yang dikaitkan
kebenarannya. Hal tersebut adalah bagian aktivitas ilmiah yang dikaitkan dengan
kepercayaan, ideologi yang
digunakan masyarakat ditempat ilmu itu dikembangkan(Mustansyir et al., 2011).
Secara umum dapat
dipahami bahwa aksiologi menerapkan sebuah analisis tentang hasil-hasil temuan
dalam ilmu pengetahuan,
sehingga ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk memudahkan dalam
kebutuhan-kebutuhan dikehidupan
manusia. Dalam perkembangan filsafat terhadap pendidikan zaman now dengan
landasan aksiologi tidak
hanya digunakan untuk mengerahkan strategi pengembangan pendidikan. Akan
tetapi, manfaat ilmu untuk
memahami berbagai konsep dan teori sesuai disiplin ilmu .
Berdasarkan landasan dan kajian literature di atas menunjukkan bahwa landasan
pada objek material
sebagai penunjang pengembangan ilmu sama seperti halnya pendidikan yang
berlangsung seumur hidup dan
dapat dipandang dalam arti luas secara teknis atau dalam hasil tercapainya proses
pendidikan yang pada
dasarnya menunjuk pada suatu tindakan yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan
yang terdiri atas watak dan karakter (Dwi, 2018). Kualitas abad kedua puluh
menulis dalam filsafat
pendidikan mungkin tidak selalu mencapai puncak oleh Plato, Aristoteles, Aquinas,
Rousseau, dan Herbart
tetapi tidak pernah, dengan kemungkinan Terkecuali zaman Yunani, telah ada
yang berkelanjutan
menyebarkan minat dalam masalah filosofis pendidikan yang mendasari seperti yang telah disaksikan.
A. Pengertian Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan pada
umumnya yang mempengaruhi potensi peserta didik dalam hal kognitif, afektif, dan
psikomotor melalui aktivitas jasmani. Melalui aktivitas jasmani anak akan
memperoleh berbagai macam pengalaman yang berharga untuk kehidupan seperti
kecerdasan, emosi, perhatian, kerjasama, keterampilan, dsb. Aktivitas jasmani untuk
pendidikan jasmani ini dapat melalui olahraga atau non olahraga. Pengertian
pendidikan jasmani telah banyak diterangkan oleh para ahli pendidikan jasmani
diantaranya adalah :
Williams menyatakan bahwa pendidikan jasmani adalah semua aktivitas manusia
yang dipilih jenisnya dan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Singer memberi batasan mengenai pendidikan jasmani sebagai pendidikan melalui
jasmani berbentuk suatu program aktivitas jasmani yang medianya gerak tubuh
dirancang untuk menghasilkan beragam pengalaman dan tujuan antara lain belajar,
sosial, intelektual, keindahan dan kesehatan.
UNESCO memberikan pengertian pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan
manusia sebagai individu atau anggota masyarakat dilakukan secara sadar dan
sistematis melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh peningkatan
kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan dan pembangunan
watak.
Bucher menyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian yang integral
dari seluruh proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan fisik, mental, emosi,
dan sosial, melalui aktivitas jasmani yang telah dipilih untuk mencapai hasilnya.
Frost menyatakan bawa pendidikan jasmani terdiri dari perubahan dan
penyesuaian yang terjadi pada individu bila ia bergerak dan mempelajari gerak.
Termasuk di dalam gerak adalah merangkak, berjalan, berlari, memanjat, melompat,
melempar dan gerakan lain yang dilakukan bila berpartisipasi dalam permaianan,
senam, tari, renang, dan beladiri.
Sukintaka menyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian yang integral
dari pendidikan total yang mencoba mencapai tujuan untuk mengembangkan
kebugaran jasmani, mental sosial, serta emosional dalam kerangka menuju manusia.
Pengertian Pendidikan Olahraga
Ada kesalahpahaman bahwa pendidikan jasmani sama dengan pendidikan olahraga.
Keduanya berbeda, pendidikan jasmani lebih menekankan pada pengembangan
keterampilan motorik dasar dan memperkaya perbendaharaan gerak. Pendidikan
olahraga menekankan pada pembinaan keterampilan berolahraga dan menghayati
nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan berlatih dan bertanding (Jewet, 1994; Jewet et
al., 1995). Semua anak dibekali pengalaman nyata untuk berperan dalam pembinaan
olahraga, seperti wasit, atlet, atau pelatih.
Pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai
cabang-cabang olahraga tertentu. Kepada peserta didik diperkenalkan berbagai
cabang olahraga agar mereka menguasai keterampilan berolahraga. Yang ditekankan
di sini adalah hasil dari pembelajaran itu, sehingga metode pengajaran serta
bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan yang ingin dicapai.
Ciri-ciri pelatihan olahraga menyusup ke dalam proses pembelajaran.
Yang sering terjadi pada pembelajaran „pendidikan olahraga„ adalah bahwa guru
kurang memperhatikan kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Jika peserta didik
harus belajar bermain bola voli, mereka belajar keterampilan teknik bola voli
secara langsung. Teknik-teknik dasar dalam pelajaran demikian lebih ditekankan,
sementara tahapan penyajian tugas gerak yang disesuaikan dengan kemampuan
anak kurang diperhatikan.
Guru demikian akan berkata: “kalau perlu tidak usah ada pentahapan, karena anak
akan dapat mempelajarinya secara langsung. Beri mereka bola, dan instruksikan
anak supaya bermain langsung”. Anak yang sudah terampil biasanya dapat menjadi
contoh, dan anak yang belum terampil belajar dari mengamati demonstrasi
temannya yang sudah mahir tadi. Untuk pengajaran model seperti ini, ada ungkapan:
“Kalau anda ingin anak belajar renang, lemparkan mereka ke kolam yang paling
dalam, dan mereka akan bisa sendiri.
B. Tujuan pendidikan jasmani dan olahraga
C. Manfaat pendidikan jasmani dan olahraga
RANGKUMAN
penerapan pendidikan jasamani dan olahraga
DBON merupakan dokumen rencana induk yang berisikan arah kebijakan pembinaan dan pengembangan keolahragaan nasional yang dilakukan secara efektif, efisien, unggul, terukur, sistematis, akuntabel, dan berkelanjutan dalam lingkup olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, olahraga prestasi, dan industri olahraga.
visi, misi, prinsip, tujuan, dan sasaran; kebijakan, strategi, dan penyelenggaraan; serta peta jalan DBON.
-Visi
DBON Tahun 2021-2045 adalah “Mewujudkan Indonesia Bugar, Berkarakter Unggul, dan Berprestasi Dunia”.
-Misi
-mewujudkan masyarakat Indonesia yang berpartisipasi aktif berolahraga dengan tingkat kebugaran jasmani baik;
-mewujudkan peserta didik pada satuan pendidikan yang berpartisipasi aktif berolahraga sehingga berkarakter unggul, memiliki kecakapan gerak, dan tingkat
kebugaran jasmani baik
-Mencetak atlet-atlet berprestasi dunia dengan pembinaan atlet jangka panjang yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan sebagai faktor pendukung utama.
-Mengembangkan industri olahraga yang mendukung pembinaan dan pengembangan olahraga nasional serta berkontribusi kepada pertumbuhan ekonomi nasional; dan e. mewujudkan tata kelola pembinaan dan pengembangan olahraga nasional yang modern, sistematis, sinergi, akuntabel, berjenjang, dan berkelanjutan.
-mengembangkan industri olahraga yang mendukung pembinaan dan pengembangan olahraga nasional serta berkontribusi kepada pertumbuhan ekonomi nasional; dan
-Mewujudkan tata kelola pembinaan dan pengembangan olahraga nasional yang modern, sistematis, sinergi, akuntabel, berjenjang, dan berkelanjutan
Prinsip
Dalam menjalankan misi dan mewujudkan tujuan, DBON menggunakan prinsip EMAS atau Excellence, Measurable, Accountable, dan Systematic and Suistainable. Excellence atau unggul, artinya seluruh program dan kegiatan yang dilaksanakan harus dilakukan dengan upaya yang terbaik untuk menghasilkan mutu setinggi-tingginya. Measurable atau terukur, artinya pelaksanaan DBON yang dirancang harus dilakukan secara terukur dan jelas target, sasaran, serta waktu pencapaiannya. Sedangkan, accountable atau dapat dipertanggungjawabkan artinya DBON harus dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi kewenangannya serta dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemudian, systematic and suistainable atau sistematis dan berkelanjutan artinya program dan kegiatan yang harus dilaksanakan secara sistematis, konsisten, dan berkelanjutan pada semua tingkatan pelaksanaan.
Tujuan DBON
Tujuan DBON bertujuan untuk meningkatkan budaya olahraga di masyarakat; meningkatkan kapasitas, sinergitas, dan produktivitas olahraga prestasi nasional; dan memajukan perekonomian nasional berbasis olahraga. Adapun fungsi DBON adalah untuk memberikan pedoman bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah (pemda) baik provinsi maupun kabupaten/kota, organisasi olahraga, induk organisasi cabang olahraga, dunia usaha dan industri, akademisi, media, dan masyarakat dalam penyelenggaraan keolahragaan nasional sehingga pembangunan keolahragaan nasional dapat berjalan secara efektif, efisien, unggul, terukur, akuntabel, sistematis, dan berkelanjutan.
Hubungan sejarah gerak manusia dan filsafat olahraga
A. PENGERTIAN FILSAFAT
Gerakan Olimpiade
Gerakan Olimpiade Sedunia, KOI Gelar Olympic Day
Ketua Panitia Olympic Day Bambang Rus menyebutkan, kegiatan Olympic Day bukanlah semata berbicara soal olahraga, tetapi juga merupakan bagian dari kegiatan gerakkan Olimpiade Sedunia yang juga dilaksanakan di seluruh negara Anggota Komite Olimpiade Internasional IOC.
”Dengan didasari pada tiga pilar utama untuk lebih menggelorakan kegiatan olahraga (Move), pembelajaran atas respek kepada sesama manusia (Learn), dan proses upaya menemukan jenis olahraga baru (Discover) kepada seluruh masyarakat dunia. Melalui kegiatan ini dapat lebih mempererat hubungan persahabatan antar sesama negara dan manusia," kata Bambang Rus yang juga Ketua Komisi Sport For All KOI, di Jakarta
Pada Olympic Day kali ini akan diisi berbagai kegiatan seperti Senam Masal Asian Games 2018, Peragaan Pencak Silat, olahraga Beladiri Taekwondo, dan Barongsai. Tidak ketinggalan duta bangsa Indonesia yang akan berlaga di Arena Olimpiade Rio de Janeiro 5-21 Agustus 2016 juga akan mengisi kegiatan Olympic Day di Plaza Selatan Gelora Bung Karno itu.
Juara Dunia Jetski 2014 Aero Sutan Aswar, dan Aqsa Sutan Aswar bertindak selaku pembawa Obor Olympic Day. Dijadwalkan Menpora Imam Nahrawi akan menghadiri Olympic Day sekaligus melakukan penyulutan api ke Kaldron .
Olympic Day digelar dalam rangka memperingati lahirnya Olimpiade yang dicetuskan Baron Pierre de Coubertin.
Baron Pierre de Coubertin yang terlahir 1 Januari 1863 dan wafat 2 September 1937 adalah seorang guru dan sejarawan Prancis, namun dikenal sebagai penemu Olimpiade Modern dan hingga kini menjadi ajang pertandingan olahraga tertinggi yang diikuti oleh para atlet terbaik dunia.
Komentar
Posting Komentar